manusia kerdil dari flores

 teori manusia kerdil dari flores 

Nama : Cici Khofipah

NPM : 10521359

Kelas : 1PA40

Mata kuliah : Matematika dan ilmu alamiah dasar


Teori Manusia Kerdil dari Flores







NAMA                 : CICI KHOFIPAH 
NPM                    : 10521359
KELAS                : 1PA40
MATAKULIAH  :  MATEMATIKA DAN ILMU ALAMIAH DASAR



                              


                                                           PRODI PSIKOLOGI
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS GUNADARMA 
2021








Kata pengantar

    Assalamu’alaikum Wr.Wb. Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Saya panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan karya  ilmiah tentang pandangan tentang teori manusia kerdil dari Flores berdasarkan pandangan psikologi.

     Karya ilmiah ini telah saya  susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan karya ilmiah ini. Untuk itu saya menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu saya dalam pembuatan karya ilmiah ini.

    Terlepas dari semua itu, saya menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka saya  menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki karya ilmiah ini.

    Akhir kata saya berharap semoga karya ilmiah tentang pandagan manusia kerdil dari Flores yang  berdasarkan pandangan psikologi ini dapat memberikan manfaat maupun inspirasi terhadap  pembaca,Wassalamualaikum wr.wb


                                                                                                  Tangerang,22 November 2021


                                                                                                                    penyusun 


PEMBAHASAN


Selama lebih dari satu juta tahun, pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, merupakan rumah bagi spesies manusia berukuran kerdil. Hobbit yang misterius. Disebut Homo floresiensis, manusia primitif itu hanya setinggi 3 kaki (0,9 meter), dan sampai sekarang sedikit yang diketahui tentang asal-usul mereka. Demikian Dailymail, 22 April 2017.
Namun para periset akhirnya menemukan bahwa penghuni pulau kecil berevolusi dari satu spesies manusia paling awal dari 1,75 juta tahun yang lalu - dan mereka mungkin adalah manusia pertama di luar Afrika.


Ada berbagai teori tentang bagaimana mereka sampai di sana. Beberapa percaya bahwa mereka mungkin telah melintasi sebuah jembatan darat dari daratan Asia dan saat permukaan air laut naik, mereka pun tersisolasi.

Setelah terisolasi, hominin ini kemudian harus bertahan pada makanan apa yang bisa mereka temukan, mereka berevolusi dengan bertubuh kecil. Para ilmuwan sebelumnya mengatakan bahwa mereka adalah pemburu yang cerdik karena mereka telah menemukan bukti pembuatan alat, perburuan, dan pembakaran.

Para ilmuwan melakukan penelitian paling komprehensif di dunia tentang tulang orang Flores, dan menemukan bahwa kemungkinan besar mereka berevolusi bersamaan dengan Homo habilis. Homo habilis adalah salah satu spesies manusia paling awal, yang tinggal di Afrika sekitar 2,1 hingga 1,5 juta tahun yang lalu.

Temuan ini meragukan asumsi yang dipegang luas bahwa penduduk pulau itu berevolusi dari Homo erectus, spesies manusia yang lebih modern. Penemuan baru ini berarti bahwa orang-orang pulau Flores berevolusi ratusan ribu tahun lebih awal dari yang diperkirakan sebelumnya.

Peneliti utama Dr Debbie Argue, dari Universitas Nasional Australia, mengatakan kepada MailOnline: "Kami menganalisis karakteristik tengkorak, rahang, dan gigi; Dan tulang bahu dan lengan H. floresiensis dan membandingkannya dengan H. erectus, spesies lain dari Homo, dan Australopithecus (nenek moyang mirip manusia awal)."

"Dengan menggunakan program statistik, kami menghasilkan sebuah pohon keluarga untuk hubungan antar spesies. Dalam hal ini kami menemukan bahwa H. floresiensis sangat erat kaitannya dengan H. habilis. "Kakinya relatif pendek yang membuat lengan tampak panjang. Tidak sepanjang, katakanlah, simpanse, tapi jauh di luar jangkauan manusia modern," katanya.

"Panggulnya seperti Australopithecus afarensis," katanya. A. afarensis adalah kera mirip manusia yang hidup 3,9 juta tahun yang lalu. "Sebenarnya, kita dapat mengatakan bahwa kedua spesies ini paling mungkin memiliki nenek moyang bersama yang unik yang tidak dibagi dengan spesies lain dalam analisis kami," katanya.

Argumentasinya bahwa tidak ada data yang mendukung teori bahwa Homo floresiensis berevolusi dari Homo Erectus. "Kami melihat apakah Homo floresiensis dapat diturunkan dari Homo erectus. Kami menemukan bahwa jika Anda mencoba dan menghubungkannya di pohon keluarga, Anda mendapatkan hasil yang sangat tidak mendukung. Semua tes mengatakan itu tidak sesuai," katanya.

Studi ini menunjukkan bahwa penghuni pulau mungkin telah hidup tanpa gangguan di Indonesia selama lebih dari satu juta tahun. Dr Argue berkata: "Sekarang bagi saya ini adalah salah satu aspek yang paling menakjubkan dari H. floresiensis. Paling sedikit ada sekitar sekitar 60.000 dan 100.000 tahun yang lalu di Flores, Indonesia. Namun, Homo habilis, kerabat terdekatnya, tinggal di Afrika dari sekitar 1,75 juta tahun yang lalu sampai satu juta tahun yang lalu," katanya.

"Mereka memiliki nenek moyang yang sama, jadi kita harus menyimpulkan bahwa silsilah H. floresiensis harus berevolusi lebih awal dari H. habilis, atau mungkin sekitar waktu yang sama. Jadi walaupun kita hanya mengenal H. floresiensis dari waktu yang relatif baru, bahan dasarnya akan kembali 1,75 juta tahun yang lalu atau lebih," tegasnya.

Mereka memiliki ciri-ciri wajah primitif.  "Tengkorak rendah, terluas di sekitar tingkat telinga. Dahi yang miring. Ini memiliki gundukan tulang di daerah alis yang membentang di sekitar mata. Bentuk tengkorak tersebut menyarankan agar orang kecil memiliki otak kecil dan mungkin tidak cerdas seperti Hominin lainnya."

Species ini tidak memiliki dagu. Alih-alih lereng rahang ke belakang. "Dia menambahkan bentuk tengkorak tersebut menyarankan agar orang-orang mungil memiliki otak kecil dan mungkin tidak cerdas seperti spesies Hominin lainnya. Tetapi ada bukti bahwa orang-orang primitif telah mengembangkan lobus frontal, bagian otak yang terkait dengan manusia yang lebih kompleks," katanya.

"Kami mempelajari pemindaian jejak otak di dalam tengkorak H. floresiensis. Kami menemukan bahwa H. floresiensis memiliki lobus frontal yang sangat maju," katanya. Inilah bagian otak yang membantu kita merencanakan, menyampaikan informasi dari generasi ke generasi, dan belajar dari kesalahan.

Studi di masa depan juga menyoroti mengapa orang Flores berada begitu kecil. Para ilmuwan pernah percaya bahwa orang Flores adalah manusia modern yang cacat, dipengaruhi oleh kondisi yang mirip dengan dwarfisme. Namun, studi baru ini menunjukkan bahwa orang-orang mungkin kecil karena mereka berevolusi sebelum H. erectus, yang merupakan hominin pertama yang tumbuh tinggi.

H. Floresiensis memang merupakan spesies kecil. "Tapi mereka tidak jauh lebih kecil dari H. habilis, dan mirip dengan perawakan Australopithecus," katanya. Yang menjadi misteri, mengapa orang-orang pulau itu, yang tinggal di Flores selama lebih dari satu juta tahun, tiba-tiba punah.  "Pada tahap ini, kita sama sekali tidak tahu kapan H. floresiensis punah," kata Dr Argue.

Dan bagaimana H. floresiensis bisa bertahan padahal pada zaman itu spesies hewan bisa di katakan memiliki ukuran badan yang sangat besar? ada 2 faktor yang mempengaruhi yaitu faktor tempat tinggal dan faktor berkoloni.

faktor tempat tinggal : Manusia kerdil dari flores atau di sebut H. floresiensis menempati gua gua, contohnya Gua Liang Bua dimana itu bisa melindungi dari hewan hewan buas yang berukuran besar .




faktor berkoloni : mengapa saya bisa mengatakan demikian kita ambil contoh semut yang memangsa serangga yang lebih besar dari ukuran semut itu sendiri ,mereka berkoloni dan bekerja sama untuk bertahan hidup dan ini pun sama dengan H. foresiensis mereka melakukan pemburuan bersama sama faktor ini di dukung oleh temuan temuan perkakas batu yang di temukan bersama dengan ditemukan nya kerangka dari H. floresiesis.





PENUTUP

kesimpulan 

    Manusia kerdil dari Flores masih adanya pro dan kontra,akan tetapi ketika membaca beberapa referensi ada kemungkinan bahwa manusia kerdil yang ada indonesia berasal dari Afrika. akan tetapi tidak bisa di pungkiri juga yang dimana ada beberapa orang yang menyatakan bahwa teori ini tidak akurat, akan tetapi itu sangatkan wajar isu-isu yang beredar di masyarakat ini adalah sebuah apresiasi atau sebuah pendapat masyarakat tentang teori ini. kita sebagai penerus bangsa indonesia harus besikap netral saja tidak berpihak kepada manapun yang, perlu di tekankan adalah bahwa kita bisa belajar akan hal itu berasal dari sejarah.jadi jangan sampai kita generasi muda bangsa ini melupakan sejarah akan nenek moyang kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tugas PAK1B Pengaplikasian Minisite

Karya ilmiah "Peran ekologi keluarga terhadap psikologi anak remaja"

Karya Ilmiah "Isu Nusantara adalah atlantis yang hilang "