Karya Ilmiah "Isu Nusantara adalah atlantis yang hilang "
Nama : Cici Khofipah
Kelas : 1PA40
Definisi Teori Nusantara
Teori nusantara menjelaskan bahwa asal usul
nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Indonesia sendiri. Teori ini
didukung oleh Muhammad Yamin, Gorys Keraf, dan J Crawford.
Teori asal usul nusantara nenek moyang
Teori Nusantara menjelaskan bahwa asal usul nenek
moyang bangsa Indonesia berasal dari Indonesia sendiri. Teori ini didukung oleh
Muhammad Yamin, Gorys Keraf, dan J Crawford. Teori ini dilandasi oleh beberapa argumen, antara lain
Bangsa Melayu merupakan bangsa yang berperadaban tinggi. Peradaban ini tidak
mungkin bisa dicapai apabila tidak melalui proses perkembangan dari kebudayaan
sebelumnya.
Isu
Nusantara adalah atlantis yang hilang
Genap 15 tahun sudah, Ahmad Yanuana Samantho bergelut dengan Atlantis
dan segala misteri-misterinya. Ketika sang pembawa cerita Atlantis, Plato,
belum sampai mengungkap di mana lokasi peradaban itu, Samantho begitu yakin ia
ada di Indonesia. Semua bermula dari kegemarannya terhadap sesuatu yang
filosofis di masa SMA. Ketika anak seusianya saat itu sedang heboh-hebohnya
menggemari Jhon Travolta, sekitar tahun 1980-an, ia justru lebih banyak
merenung ditemani buku-buku filsafat nan tebal. Tampil sebagai penyendiri,
Samantho bukannya tak percaya diri. Ia merasa lebih berguna berkawan dengan
buku-buku dibanding dengan berjingkrak-jingkrak menikmati alunan musik.
Ternyata, darah menyenangi hal-hal yang berhubungan dengan ilmu sosial turun
dari sang bunda yang merupakan antropolog Universitas Indonesia. “Jadi saya
memang sejak muda suka sejarah dan filsafat meskipun saya awalnya sarjana
politik,” ujar Samantho dalam perbincangan dengan kumparan di
kediamannya di Parung, Bogor, Jumat (11/1).
Perkenalannya dengan Atlantis dimulai ketika ia mulai membaca
karya-karya Stephen Oppenheimer (1998) dan Profesor Santos asal Brasil soal
Atlantis (2005). Baginya, saat itu adalah masa-masa menyenangkan. Katanya,
seperti menemukan cinta pertama.
Buku Santos yang berjudul ‘Atlantis: The Lost
Continent Finally Founded’ menjadi penyemangatnya untuk menggapai bukti-bukti
baru soal Atlantis. Apalagi Santos secara spesifik menyebut Atlantis yang
hilang itu ada di Nusantara. Dalam bukunya, Santos mengungkapkan 30
ciri-ciri peradaban Atlantis yang ia temui di Nusantara. Dari mulai soal sistem
irigasi, teknologi perkapalan, hingga beberapa artefak kuno yang identik.
Membaca buku Santos membuat Samantho semakin bersemangat. Awalnya ia hanya menyadur
tulisan profesor nuklir itu untuk diterbitkan di majalah tempat ia bekerja
tahun 2010, Madina.
Santos menyebut, Atlantis berada di sekitar Sundaland. Di antara
Sumatera, Gunung Krakatau dan Laut Jawa. Atlantis kemudian hilang karena
letusan gunung berapi yang dibarengi dengan gempa dahsyat di Sundaland,
mencairnya kutub utara dan selatan yang menyebabkan banjir dahsyat. “Namun
sayangnya Santos meninggal dan belum sempat ke Indonesia. Dia meninggal di
Amerika,” ujar lulusan Magister Universitas Paramadina itu.
Bak mendapat durian runtuh, tak lama kemudian tulisan Samantho menjadi
sorotan tokoh-tokoh penting di Indonesia. Antara lain, mantan wakil gubernur
Jawa Barat Dede Yusuf dan eks Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Ashiddiqie. “Nah
Pak Jimly-lah yang menyuruh saya dan tim penerbit Ufuk untuk menerjemahkan
bukunya Santos. Terbitlah awal tahun 2011," ungkapnya. Tak cuma itu,
Samantho juga mendapat dukungan penuh dari Dede Yusuf ketika menyodorkan ide
untuk menyelenggarakan konferensi internasional soal Atlantis di Bogor. Pemprov
Jabar mau mensponsori seluruh kegiatan tersebut.
Tak main-main, Samantho menghadirkan pembicara-pembicara yang memang
fasih betul soal Atlantis. Dari mulai Oppenheimer yang menulis buku berjudul
“The Eden in The East” dan anak dari Prof Santos yang tinggal di Amerika
Serikat Frank Joseph Hoff. Di sana kemudian dipaparkan secara gamblang sejumlah
penemuan yang diyakini bekas peninggalan Kerajaan Atlantis. Akhirnya Samantho
kemudian mengumpulkan bukti-bukti penyempurna buku karya Santos berjudul
“Peradaban Atlantis Nusantara” tak lama setelah konferensi itu.
“2013 muncul Gunung Padang dan fakta-faktanya. Saya sendiri sudah
menduga artefak itu ada. Di buku saya, saya sajikan ini ada, artefak misalnya
bangunan megalitik atau patung di Lampung, di Teluk Bada di Sulawesi yang mirip
dengan Ester dengan patung di Samudera Pasifik dengan Amerika Selatan,”
ungkapnya. Tak puas sampai di situ,
ia terus berupaya mematahkan pendapat mereka yang skeptis tentang Atlantis.
Dari mulai penemuan patung di Medan, hingga penemuan topeng logam campuran di
Goa Meda, Jombang, Jawa Timur.
Setelah diteliti di Italia, lanjut dia, umur topeng ternyata puluhan
ribu tahun, cocok dengan kisah Plato tentang Atlantis yang hilang sekitar 9000
SM. “Puluhan ribu tahun lalu bangsa kita sudah mempunyai teknologi metalurgi.
Sudah mengerti mineral batuan yang mengandung logam yang bagus sudah ada
peleburan yang jadi topeng. Itu banyak sekali bukti kalau kita mau berpikiran
terbuka menerima,” ungkapnya.
Isu Atlantis kemudian perlahan meredup sekitar tahun 2015. Namun
Samantho tak berhenti meneliti untuk mengungkapkan misteri Atlantis. Ia juga
menyebut sering berkumpul dengan komunitas yang suka dan meneliti Atlantis di
berbagai kota. Sampai pada akhirnya ia menemukan sesuatu yang ia sebut sebagai
bukti baru di tahun 2018.
Beriringan dengan meledaknya film superhero ‘Aquaman’, isu ini muncul
kembali meski tak sekencang sebelumnya. Di saat yang sama, Samantho juga
mengklaim bukti baru bahwa Atlantis ada di Indonesia. Ia mengisahkan, semua
bermula dari akhir tahun 2018. Samantho bertemu dengan keluarga Ari Karyono,
seorang pejabat di Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan RI.
Keluarga Ari Karyono ini, lanjut dia, ternyata sejak tiga tahun terakhir
ini mengumpulkan banyak artefak, pusaka kuno yang ditemukan di sekitar Madura,
Selat Bali, Pulau Bawean. Baik di darat maupun di lautan. “Ditemukan berupa
pusaka berbahan baku logam meteorid. Beda dengan keris yang campuran, ini murni
bahan meteorid,” tutur dia.
Pusaka tersebut berupa pedang, cincin, mahkota, yang jumlahnya puluhan.
Barang meteorid itu menurutnya ditempa lipat artinya dipanaskan sedemikian rupa
dan hanya bisa lebur di suhu 3000 derajat celcius. Keluarga Ari Karyono
kemudian meneliti juga ke pusat pembuatan keris di Madura. Namun para empu
keris di sana tak sanggup untuk membuat pusaka dengan model dan bahan yang
sama.
“Bahannya enggak ada dan teknologinya rumit,”
katanya. Ia bercerita, ada kujang yang
panjangnya satu setengah meter dan beratnya 20 kg. Ada kujang naga, kujang
lumba-lumba, ada trisula. “Cincinnya juga gede-gede, enggak masuk di tangan
orang sekarang,” ujar Samantho. Samantho semakin yakin bahwa Atlantis
benar-benar ada di Indonesia.
Di sisi lain, pihak arkeolog di Indonesia belum bisa memercayai bahwa
Atlantis itu ada. Apalagi seperti yang disebutkan Samantho, Atlantis ada di
Indonesia. Kepala Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Bambang Budi Utomo bahkan
menyebut Atlantis hanyalah berada di dunia ide. Sementara soal bukti-bukti,
menurutnya hanya dicocok-cocokkan saja. “Kalau memang Atlantis itu ada dia
adanya enggak jauh dari Laut Mediterania, di sekitar gunung api Santorini di
sana. Itu juga kalau ada,” ujar Bambang. Bambang juga mengaku sempat membaca buku karya Santos. Namun tak sampai
habis.
Dia juga menyebut, apa yang disampaikan Santos bahwa Atlantis di Laut Jawa
juga sulit dipercaya. Sebab, tak ada satupun peninggalan sejarah yang mirip
dengan peradaban di barat ataupun Mesir. “Yang saya terakhir baca itu si Santos
itu bilang ada di selatan Kalimantan di Laut Jawa. Tempat bermuaranya sungai
sungai besar. Di situ disebutkan ada pulau yang dikatakan bekas pilar Hercules.
Nah itu kan enggak mungkin,” ujarnya. “Sekarang, barang-barang yang
ditinggalkannya itu apa?” ujar Bambang.
Menurut Santos, Atlantis itu kerajaan yang lenyap sekitar tahun 9500
sampai 9000 SM. Seharusnya, apabila Atlantis benar-benar di Indonesia ada,
paling tidak, tembikar di sekitar lokasi istana kerajaan itu bisa ditemukan.
Sementara menurut penelitian Bambang, sejauh ini situs tertua di Indonesia itu
berasal dari 3800 tahun SM dengan tinggalannya berupa tembikar.
Komentar
Posting Komentar